Kaum Rebahan Mendadak Kaya Raya
Pekerjaan termalas di milenium ini telah lahir. Memasuki bulan-bulan dingin di 2026, tren yang semula lahir di kawasan Tiongkok kini mewabah di pesinden Indonesia. Fenomena itu disebut Sleep Streaming. Aturannya gampang: Pasang kamera smartphone ke arah kasur, matikan lampu (atau sisakan lampu remang), klik tombol Live di TikTok, lalu tidurlah pules dari jam 10 malam sampai jam 6 pagi.
Ajaibnya, puluhan ribu netizen insomniak rela begadang hanya untuk menonton sang streamer terlelap. Lebih gilanya lagi, para penonton ini memborbardir kreator dengan lemparan hadiah virtual (Saweran Mawar hingga Singa) yang jika ditarungkan bisa menembus puluhan juta rupiah dalam satu malam.
Mengulik Aspek Psikologisnya
Mengapa tren absurd ini laku keras? Sosiolog perkotaan mendiagnosis bahwa lonjakan rasa kesepian akut (loneliness epidemic) pada Generasi Z membuatnya. Menonton wajah sesama manusia bernapas teratur secara siaran langsung memberikan sensasi ilusi kehadiran (parasocial connection), seakan-akan mereka tidak berada sendirian di kamar kost sempitnya di tengah malam sunyi.
Di luar keanehan itu, beberapa Sleep Streamers menderita kerugian juga; mereka mengeluhkan penurunan kualitas tidur gara-gara harus menyetel notifikasi ‘saweran’ berbentuk alarm nyaring (jump-scare donation) yang jadi fitur andalan donor nakal untuk membangunkan paksa mereka.
