Jengah dengan Flexing, Tren ‘Anti-Aesthetic’ Kuasai Instagram Gen Z

1 Min Read

Pemberontakan Melawan Kesempurnaan

Selama satu dekade terakhir, Instagram adalah etalase kesempurnaan: warna yang di-filter, komposisi foto makanan yang presisi, hingga liburan mewah (flexing). Namun di tahun 2026, bandul tren berayun ke arah berlawanan. Gen Z di seluruh dunia, termasuk Indonesia, kini mengadopsi gerakan ‘Anti-Aesthetic’ di feed mereka.

Tren ini ditandai dengan postingan foto ngeblur (motion blur), selfie dengan angle aneh dari bawah dagu, ruangan kamar yang berantakan, serta tangkapan layar percakapan absurd tanpa konteks. Mode ‘photo-dump’ acak ini dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial untuk selalu tampil paripurna.

Otentisitas Adalah Raja Baru

Survei dari lembaga riset digital di Jakarta menunjukkan bahwa 68% pengguna Instagram di bawah 25 tahun merasa cemas saat melihat postingan super-estetik yang kurasi. Akibatnya, mereka lebih menyukai konten mentah (raw) yang memberikan kesan “I don’t care”.

Bahkan, beberapa brand terkemuka mulai mengubah strategi social media marketing mereka mengikuti tren ini—mengunggah meme low-res dan foto behind-the-scene yang sengaja dibuat jelek agar lebih relatable dengan target pasar anak muda.

Share This Article