Krisis Properti 2026: Harga Rumah di Jakarta Turun, Tapi Tetap Tak Terbeli Gen Z

1 Min Read
Photo by Picsum / The Newspaper

Gelembung Properti Pecah?

Setelah lebih dari dua dekade terus merangkak naik, gelembung properti di Jabodetabek akhirnya menunjukkan tanda-tanda ‘bocor’ di kuartal kedua 2026. Data Bank Indonesia mencatat penurunan harga rumah tapak sebesar rata-rata 12% di kawasan penyangga seperti Depok dan Bekasi. Hal ini dipicu oleh oversupply unit apartemen dan tren remote working permanen yang membuat pekerja enggan membeli hunian dekat pusat kota.

Sayangnya, penurunan ini seolah tak ada artinya bagi Generasi Z dan Milenial akhir. Inflasi harga kebutuhan pokok dan kenaikan suku bunga KPR (Kredit Pemilikan Rumah) membuat angsuran bulanan tetap menyiksa kantong.

Beralih ke Hunian Kapsul?

Sebagai solusi, banyak pekerja muda kini mulai menyewa ‘Micro-Capsule Apartment’ seluas 3×3 meter di tengah kota Jakarta Pusat yang harga sewanya ditekan hingga Rp 1,5 juta per bulan.
“Buat apa punya rumah besar tapi cicilannya sampai pensiun? Mending uangnya buat langganan AI Assistant dan traveling,” ujar Raka (24), seorang karyawan agensi.
Apakah impian memiliki rumah bersertifikat lambat laun hanyalah dongeng bagi penduduk urban masa depan?

Share This Article