Menyerah Beradaptasi Sumpah Kesatuan Sakral Mati?
Meningkatnya tren mengerikan epidemi kasus pengacara cerai meledak drama perampasan gono-gini gugatan berlarut meja hakim pengadilan anak menjadi trauma paranoid batin Generasi pendatang pernikahan dekade ini. Sekelompok firma hukum spesialis perdata perkawinan menyodorkan gagasan revolusioner abu-abu kontroversial adat timur bernama klausul dokumen Timed-Contract Matrimony Agreement (Perjanjian Kawin Langganan Ad-Hoc 5 Tahunan Durasi Diperbarui Opsi Centang Sepakat Bersama).
Mempelai modern tidak lagi mengucap diksi sakral usang “Hingga maut memisahkan raga berkalang tanah kubur keranda”, banting setir membaca perjanjian notaris map sumpah menggarisbawahi klausa uji coba komitmen: “Membangun pelayaran visi satu kasur satu atap durasi fiks kontrak 60 bulan terhitung cap jari, apabila bosan di tahun kelima tak mencapai indeks KPI (Key Performance Kebahagian Indikator), kita bisa bebas berpisah ranjang berjabatan tangan baik tanpa ribet pembagian blokir aset rekening apartemen pisah damai, apabila cocok, ayo Renew perbarui lagi nambah tahun kelipatan ganda perpanjangan garansi kebersamaan rukun!”.
Hujatan Tetua Agama Lembaga Ulama Memprotes Perzinahan Berlapis Dokumen Moden Bermeterai.
KUA agama mengutuk skema perniagaan bursa asrama kasih sayang ini meredupkan nurani ibadah keikhlasan menanggung derita pahit miskin senang melarat pernikahan batin tuhan pelindung. Walau dirisak habis ceramah kutukan sosial gosip ibu arisan, biro hukum pendaftar klausul pre-Nuptial pembaruan 5 Tahun kontrak malah laku mendulang order antrean pesanan ribuan para eksekutif muda ambisius egois individualis narsisistik ibukota.
