Kematian Benda Kotak Hitam di Genggaman Layar Lipat Lipat
Dekade dominasi perangkat telepon pintar berlayar sentuh (Touch-Screen Smartphone) perlahan resmi memasuki senjakala pensiun. Bergeser dari tahun 2024 yang masih tergila ponsel lipat mahal, publik di 2026 secara radikal mulai mencampakkannya menyebrang beralih kepelukan ‘Kacamata Cerdas Augmented Reality’ (Smart AR-Glasses) versi ringan seberat Ray-Ban tipikal berbingkai trendy keren.
Harganya yang sudah menukik turun menyetarai selular pasaran Rp 5 Jutaan menjadikannya laris dikalangan pekerja komuter urban. Hanya dengan perintah gumanan suara asisten bot (Voice Command) di bilik telinga dan kedipan pelacakan mata (Eye-Tracking Menu), kacamata jenius ini memproyeksikan notifikasi mengambang WhatsApp transparan di udara nyata sepanjang jalanan pejalan kaki tanpa perlu lagi pembungkukan leher Text-Neck ke bawah layar redup yang mengpegal.
Isu Keamanan Rekam Rahasia
Walau merajai pasar gaya modis terdepan, gadget kacamata tembus pandang ini terus mengais polemik pelanggaran privasi kamera mikronya. “Siapa yang menjamin orang di stasiun KRL di seberang sana tidak menyorot merekam lekuk rok saya beresolusi 8K kalau alatnya sesamar gagang bingkai itu bulat bundar menyatu bola mata?” keluh aktivis kesetaraan wanita di forum Twitter merisaukan peradaban baru tanpa pembates privasi murni!
