Bukan Sekadar Duduk Makan Berondong Jagung
Jaringan bioskop Cine-XX memelopori era layar lebar yang tak pasif di ibu kota bulan lalu. Memutar film bergenre Thriller-Mystery garapan Joko Anwar terbaru, pengunjung diberikan kuasa setir atas nasib karakter film melalui mini-joypad lima warna yang tersemat pada arm-rest / bantalan lengan mereka kursinya.
Tepat di sebuah adegan tegang ketika detektif kepojok, layar menjeda lima detik: (A: Pecahkan kaca kabur, B: Sembunyi ke lemari, C: Lawan Pembunuhnya!). Algoritma bioskop lalu memutar cuplikan video lanjutan berdasarkan persentase pemilihan audiens terbanyak di teater (Crowd Polling).
Berdebat Kusir Usai Layar Tertutup
Karena punya rute cerita yang bercabang total, audiens di kursi terpaksa adu mulut di dalam panggung bioskop, bahkan menjerit membujuk tetangganya, “Tekan tombol lompat woy jangan nyerah masuk lemari!!”. Menonton bioskop bukan lagi pengalaman individual yang syahdu melainkan game musyawarah brutal.
Rekor membuktikan, ada audiens yang kembali membeli tiket di jam kedua hanya agar bisa mendorong opsi alur jalan cerita (ending) berbeda di studio sebelah.
